Selasa, 16 Juni 2026

Rajut Sinergi dan Solidaritas: PMII Rayon Sosial UNESA Pererat Silaturahmi dalam Momentum Harlah dan Halalbihalal

Ada waktu di mana derap langkah pergerakan yang biasanya diwarnai aksi, diskusi, dan dinamika keras harus sejenak melambat. Bukan untuk berhenti, tapi berbalik arah, menengok, dan saling menggenggam tangan. Atmosfer hangat itulah yang menyelimuti perayaan Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sekaligus momentum Halalbihalal yang digelar oleh PMII Rayon Sosial Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Acara yang berlangsung dalam satu hari ini sukses menjadi ruang temu lintas generasi. Di sela-sela riuhnya suasana bulan Syawal, para kader aktif, jajaran pengurus, hingga para alumni (demisioner) melebur dalam satu ruang yang sama, menanggalkan sekat senioritas demi sebuah ikatan emosional yang erat. Kali ini ruang forum juga menjadi panggung untuk menjalin hubungan dan memperkuat solidaritas antar kader.

Ketua PMII Rayon Sosial UNESA  menyampaikan bahwa Harlah dan Halalbihalal bukanlah ritual tahunan tanpa makna. Momentum ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan kalibrasi diri secara kolektif. Para kader yang hadir diajak untuk berbagi cerita, canda, hingga dinamika perjuangan masa lalu yang dikemas dalam obrolan santai. Dialog interaktif ini berhasil menjembatani pemikiran para pendahulu dengan visi kader masa kini, menciptakan sebuah transfer semangat yang organik.

Dalam acara ini, berbagai interaksi simbolik terjadi sebagai makna  rasa syukur atas usia PMII yang kian matang. Doa-doa dilantunkan secara khidmat, memohon agar organisasi ini tetap konsisten melahirkan kader-kader yang tidak hanya unggul di ranah akademis kampus, tetapi juga peka dan membumi di tengah realitas sosial masyarakat.

Acara ditutup dengan bersalam-salaman saling memaafkan, juga diiringi dengan sebuah senyuman dan energi baru. PMII Rayon Sosial UNESA hari itu berhasil membuktikan bahwa di dalam ketatnya nalar kritis mahasiswa, selalu ada ruang luas untuk merawat kehangatan dan persaudaraan.

Raker PMII Rayon Sosial UNESA: Memperkuat Arah Gerakan dan Komitmen Kader di Ranah Sosial dan Akademis

Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Sosial Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sukses menggelar Rapat Kerja (Raker) kepengurusan baru. Agenda krusial ini menjadi pijakan awal dalam merumuskan strategi organisasi selama satu periode ke depan.

Raker yang dihadiri oleh jajaran pengurus rayon, demisioner, serta perwakilan Pengurus Komisariat PMII UNESA ini berlangsung dengan khidmat dan dinamis. Forum ini difokuskan untuk membedah, mengkritisi, sekaligus mengesahkan rancangan program kerja dari setiap biro dan departemen agar selaras dengan basis keilmuan sosial dan tantangan zaman.

Ketua PMII Rayon Sosial UNESA menegaskan bahwa rapat kerja ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum krusial untuk mengkalibrasi ulang komitmen setiap kader. Sebagai bagian dari mahasiswa rumpun sosial, kader PMII dituntut untuk tidak hanya peka terhadap dinamika realitas di masyarakat, tetapi juga harus memiliki fondasi intelektual yang kokoh di ruang-ruang kelas.

Rapat kerja kali ini berjalan dengan produktif. Berbagai gagasan segar berbasis advokasi masyarakat, kajian isu kontemporer, pengembangan literasi, hingga optimalisasi media digital sebagai wajah pergerakan modern turut diperbincangkan. Pendekatan akademis dan  analisis kritis menjadi warna utama dalam setiap argumen dan penyusunan program kerja yang diajukan oleh para pengurus.

Melalui arah gerakan yang diperkuat dalam raker ini, PMII Rayon Sosial UNESA berkomitmen untuk melahirkan produk-produk gerakan yang lebih terukur, mulai dari pengabdian masyarakat yang berbasis riset hingga forum diskusi yang mampu menjawab problematika sosial hari ini.

Dengan selesainya seluruh rangkaian sidang pleno dan pengesahan program kerja, kepengurusan PMII Rayon Sosial UNESA kini siap melangkah. Rapat kerja ini ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga soliditas internal dan langsung tancap gas merealisasikan garis-garis perjuangan yang telah disepakati demi kemaslahatan organisasi, kampus, dan masyarakat luas. 

Senin, 15 Juni 2026

Dekonstruksi Kaderisasi PMII

Ditengah arus perkembangan zaman yang kian cepat dan cenderung pragmatis, kaderisasi dalam batang tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sepertinya mengalami pergeseran makna yang cukup mendalam. Gerakan yang dulu terkenal atas kelantangannya menyuarakan isu-isu sosial, sekarang seperti hilang dan justru terjebak dalam romantisme struktural dan rutinitas kultural.

Ada gejala akut dimana identitas “Kader PMII” hanya menjadi bagian dari simbol kultural yang kehilangan ideologis. Kegiatan Seminar, Upgrading, Pelatihan Kepemimpinan dan lain-lain itu memang penting, namun jika semua itu tidak berorientasi pada kerja-kerja Advokasi dan Gerakan sosial, maka kita berhak untuk bertanya, masih waraskah kita sebagai kader pergerakan?

PMII hari ini menghadapi krisis yang tidak bisa lagi disembunyikan dengan jargon kaderisasi atau romantisme sejarah. Krisis itu disebut kemerosotan nalar kritis dan intelektual kader. Organisasi yang lahir dari Rahim pergulatan ide justru kini kerap terjebak pada rutinitas seremonial-budaya instan yang miskin proses.

Kita bangga membalut tubuh dengan atribut biru-kuning, yang lantang menggemakan “tangan terkepal dan maju ke muka” namun di balik itu semua ada kekosongan dalam menerjemahkan visi besar organisasi. Menjadikan nama PMII sekedar prasyarat administratif demi batu loncatan kekuasaan-label aktivis adalah bentuk penghianatan sistematis terhadap sejarah perjuangan para pendahulu. Jika orientasi berorganisasi hanya sebatas menggungurkan kewajiban formal, maka sejatinya kita sedang memelihara mentalitas pecundang.

Secara kultural, kita pun menghadapi situasi yang dilematis; PMII semakin tarik-menarik dalam kepentingan politik praktis, yang dimana hal tersebutlah yang membuat gerakan tumpul ketika berhadapan dengan kekuasaan. Sehingga terdapat keengganan untuk bersikap kritis terhadap negara-birokrasi, karena kedekatan dianggap sebagai pencapaian strategis, bukan lagi persoalan prinsip.

Jabatan dijadikan komoditas tawar-menawar untuk menjalankan kaderisasi, sementara kualitas pemikiran kader semakin dikesampingkan. Akibatnya, banyak kader tumbuh bukan karena proses dialektika dan penguatan ideologi, melainkan karena kedekatan politik serta kepentingan kelompok tertentu.

Menurunnya gerakan dan intelektualitas kader ini juga dikarenakan runtuhnya ekosistem membaca dan menulis di ruang-ruang organisasi. Budaya membaca kini dianggap sebagai beban kognitif yang menjemukan, bukan lagi sebagai kebutuhan eksistensial. Akibatnya, PMII tengah memanen generasi yang fasih beretorika di podium namun cacat logika (bersandar pada sentimen emosional).

Matinya budaya menulis, juga menyertai terjadinya pendangkanalan intelektual kader. Menulis bukan sekedar menyusun kata, melainkan sebuah upaya radikal ntuk mengabadikan gagasan dan mengintervensi realitas. Ketika pena ditinggalkan, PMII secara sukarela melucuti senjatanya dalam pertarungan wacana publik, ia membiarkan jati dirinva terkikis dan membiarkan masa depannva didikte oleh narasi pihak lain.

Situasi ini melahirkan pola pikir kader yang pragmatis dan terjebak pada politik praktis sejak dini. Orientasi gerakan tidak lagi berbicara tentang keberpihakan terhadap rakyat, produksi pengetahuan, ataupun transformasi sosial, melainkan sibuk mengamankan posisi dan legitimasi kekuasaan. Padahal PMII lahir dari tradisi intelektual dan semangat pergerakan, bukan dari budaya transaksional organisasi.

Kaderisasi tidak boleh hanya menjadi formalitas administrasi atau tangga menuju legitimasi jabatan. Tanpa tradisi literasi yang kuat, kader hanya akan menjadi penghafal istilah tanpa kemampuan analisis.

Ber-PMII adalah soal mewakilkan diri pada perubahan. Tanpa keresahan intelektual dan keberanian melawan ketidakadilan, seluruh proses kaderisasimu hanyalah seremonial kosong yang menghianati nilai dasar pergerakan. –Kawulo PMII


Penulis: Kader PMII