Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2026

Dekonstruksi Kaderisasi PMII

Ditengah arus perkembangan zaman yang kian cepat dan cenderung pragmatis, kaderisasi dalam batang tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sepertinya mengalami pergeseran makna yang cukup mendalam. Gerakan yang dulu terkenal atas kelantangannya menyuarakan isu-isu sosial, sekarang seperti hilang dan justru terjebak dalam romantisme struktural dan rutinitas kultural.

Ada gejala akut dimana identitas “Kader PMII” hanya menjadi bagian dari simbol kultural yang kehilangan ideologis. Kegiatan Seminar, Upgrading, Pelatihan Kepemimpinan dan lain-lain itu memang penting, namun jika semua itu tidak berorientasi pada kerja-kerja Advokasi dan Gerakan sosial, maka kita berhak untuk bertanya, masih waraskah kita sebagai kader pergerakan?

PMII hari ini menghadapi krisis yang tidak bisa lagi disembunyikan dengan jargon kaderisasi atau romantisme sejarah. Krisis itu disebut kemerosotan nalar kritis dan intelektual kader. Organisasi yang lahir dari Rahim pergulatan ide justru kini kerap terjebak pada rutinitas seremonial-budaya instan yang miskin proses.

Kita bangga membalut tubuh dengan atribut biru-kuning, yang lantang menggemakan “tangan terkepal dan maju ke muka” namun di balik itu semua ada kekosongan dalam menerjemahkan visi besar organisasi. Menjadikan nama PMII sekedar prasyarat administratif demi batu loncatan kekuasaan-label aktivis adalah bentuk penghianatan sistematis terhadap sejarah perjuangan para pendahulu. Jika orientasi berorganisasi hanya sebatas menggungurkan kewajiban formal, maka sejatinya kita sedang memelihara mentalitas pecundang.

Secara kultural, kita pun menghadapi situasi yang dilematis; PMII semakin tarik-menarik dalam kepentingan politik praktis, yang dimana hal tersebutlah yang membuat gerakan tumpul ketika berhadapan dengan kekuasaan. Sehingga terdapat keengganan untuk bersikap kritis terhadap negara-birokrasi, karena kedekatan dianggap sebagai pencapaian strategis, bukan lagi persoalan prinsip.

Jabatan dijadikan komoditas tawar-menawar untuk menjalankan kaderisasi, sementara kualitas pemikiran kader semakin dikesampingkan. Akibatnya, banyak kader tumbuh bukan karena proses dialektika dan penguatan ideologi, melainkan karena kedekatan politik serta kepentingan kelompok tertentu.

Menurunnya gerakan dan intelektualitas kader ini juga dikarenakan runtuhnya ekosistem membaca dan menulis di ruang-ruang organisasi. Budaya membaca kini dianggap sebagai beban kognitif yang menjemukan, bukan lagi sebagai kebutuhan eksistensial. Akibatnya, PMII tengah memanen generasi yang fasih beretorika di podium namun cacat logika (bersandar pada sentimen emosional).

Matinya budaya menulis, juga menyertai terjadinya pendangkanalan intelektual kader. Menulis bukan sekedar menyusun kata, melainkan sebuah upaya radikal ntuk mengabadikan gagasan dan mengintervensi realitas. Ketika pena ditinggalkan, PMII secara sukarela melucuti senjatanya dalam pertarungan wacana publik, ia membiarkan jati dirinva terkikis dan membiarkan masa depannva didikte oleh narasi pihak lain.

Situasi ini melahirkan pola pikir kader yang pragmatis dan terjebak pada politik praktis sejak dini. Orientasi gerakan tidak lagi berbicara tentang keberpihakan terhadap rakyat, produksi pengetahuan, ataupun transformasi sosial, melainkan sibuk mengamankan posisi dan legitimasi kekuasaan. Padahal PMII lahir dari tradisi intelektual dan semangat pergerakan, bukan dari budaya transaksional organisasi.

Kaderisasi tidak boleh hanya menjadi formalitas administrasi atau tangga menuju legitimasi jabatan. Tanpa tradisi literasi yang kuat, kader hanya akan menjadi penghafal istilah tanpa kemampuan analisis.

Ber-PMII adalah soal mewakilkan diri pada perubahan. Tanpa keresahan intelektual dan keberanian melawan ketidakadilan, seluruh proses kaderisasimu hanyalah seremonial kosong yang menghianati nilai dasar pergerakan. –Kawulo PMII


Penulis: Kader PMII